• +6281216049842

SISI LAIN WAJAH MALAYSIA

WIB. Diakses: 307x.

sisi-lain-wajah-malaysia

Judul buku : Unapologetic

Penulis       : Boo Su-Lyn

Penerbit     : Gerak Budaya Enterprise

Cetakan     : 2018

Tebal         : 313 halaman

 

Kita tidak menerjemahkan banyak buku Malaysia ke dalam bahasa Indonesia. Sebaliknya, negeri jiran mengalihbahasakan pelbagai jenis buku dari tanah air. Tak pelak, pengetahuan kita tentang negeri bekas jajahan Inggeris tersebut terbatas. Tak hanya itu, kebanyakan warga hanya mengenal negara tetangga sebagai adik yang banyak tingkah. Padahal, negara ini tidak jauh berbeda dengan kita yang mempunyai masalah internal serupa, seperti penerimaan pada perbedaan dan makna kebebasan.

Buku ini masih dipajang di rak buku. Mengingat banyak karya yang sebelumnya dilarang, buah pena wartawan Malay Mail tentu berpotensi untuk dicegah menjangkau khalayak. Kumpulan tulisan ini mengandung isu-isu yang sensitif. Beruntung, pemerintahan berganti. Dengan slogan Malaysia baru, negara berlambang bunga sepatu ini memposisikan dirinya sebagai negara yang mengakui kemajemukan, sehingga perbedaan tidak dianggap sebagai penghalangan untuk mendapatkan jabatan publik dan janji untuk memberikan kebebasan yang lebih luas dengan menggantung undang-undang yang membelenggu ekspresi khalayak.

Sampul belakang menunjukkan biodata  hidup penulis, yaitu sebagai wakil editor berita dan kolumnis Malay Mail dan pendiri BEBAS, sebuah gerakan anak muda yang membela keseteraan, sekularisme, dan penghentian terhadap diskriminasi. Tidak hanya itu, ia adalah menjadi host program wicara daring (online) yang membahas isu politik, ras, agama, hak-hak asasi manusia, dan demokrasi. Sebagai orang libertarian ia percaya pada keterlibatan pemerintah yang minimal dalam ekonomi dan isu sosial. Dengan melihat jati diri penulis, pembaca bisa membayangkan jalan pemikiran dan sikap wartawan tersebut.

Sebagai kumpulan tulisan, pembaca tidak perlu membaca buku ini dari awal, karena setiap tulisan diberi nomor dan judul yang menggambarkan isi. Dengan membayangkan pikirannya berdasarkan idelogi di atas, kita bisa memilih bagian-bagian yang mendatangkan daya kejut, seperti “Why I Left the Faith”. Pilihan meninggalkan agama di Malaysia tentu tidak lazim dan menggugat dasar negara, yaitu kepercayaan pada Tuhan sebagai sila pertama. Peliknya, hingga kini buah pikiran penulis ini tidak dilarang, seperti buku-buku yang dianggap mengganggu ketenteraman umum, seperti History of God oleh Karen Amstrong dan Allah, Kebebasan dan Cinta Irshad Manji.

Sebagaiman umumnya warga Tionghoa, ia tumbuh dalam keluarga yang menganut Buddha yang bercampur dengan ajaran Taoisme. Di rumah, ada Tuhan Monyet yang diletakkan di altar tempat berdoa. Ketika sang ayah meninggal, ia pindah ke agama Kristen dengan alasan Tuhan Yesus tampak lebih mudah dipahami dibandingkan Tuhan impersonal yang tidak bisa mencegah kematihan bapaknya akibat kanker. Solidaritas komunitas gereja begitu kuat sehingga ia menemukan keluarga di tengah kehilangan orang yang sangat dicintainya. Namun, dalam kegairahan menjalani agama baru, ia menemukan ketidakmasukakalan dan akhirnya memilih tak bertuhan karena berdoa atau tidak, hidupnya berjalan seperti biasa, tak ada yang berbeda.

Sebagai negara yang menempatkan Islam sebagai agama resmi, namun negara bekas jajahan Inggeris menjamin kebebasan beragama dalam konstitusi. Namun, pada praktiknya, pelbagai partai hanya memperjuangkan agama dan etniknya masing-masing. Pesan kemerdekaan yang dirayakan setiap tahun semestinya berdasarkan prinsip keseteraaan dan sekulerisme. Jika rakyat hendak membangun sebuah dengan kebijakan pemerintah yang  tak memandang ras, maka masing-masing etnik harus menangglkan previlese yang dimilikinya.

Namun, tak mudah bersikap kritis terhadap isu sensitif di atas. Apalagi soal keagamaan yang akan berujung bui bila dinista. Padahal, menurut penulis, agama itu semata-mata kepercayaan, sebagaimana filsafat dan ideologi yang lain (hlm. 208). Agama bisa menjadi sebuah pondasi bagaimana beberapa orang memilih untuk menjalani hidup dan membuat pilihan sehari-hari, tetapi tidak seharusnya memberikan agama perlakuan khusus dan kekebalan dari pertanyaan, pencercaan dan kritisisme. Pikiran seperti ini tidak dianut oleh khalayak dan berisiko untuk diberangus oleh pihak berwenang.

Salah satu kelompok yang sangat sensitif terhadap isu di atas adalah Partai Islam se-Malaysia. Tak pelak, salah satu bagian berjudul “An oper letter to PAS” menggambarkan sikap penulis terhadap pandangan primordial partai agama ini. Malaysia seharusnya menjadi sebuah negara di mana semua warg bebas untuk mencapai ambisi dalam bidang apapun. Siapapun bisa mewujudkan mimpinya, karena Malaysia adalah tanah airnya. Malah, penulis bermimpi menjadi seorang perdana menteri. Keinginan ini tentu absah, namun realitas politik tidak ramah. Meskipun demikian, kemenangan Pakatan Harapan telah menghadirkan suasana baru, di mana jaksa agung berasal dari orang bukan Melayu dan Islam.

Lalu, apa yang akan dilakukan oleh penulis jika menjadi orang nomor satu jiran? Ia akan menyakinkan dua pertiga dari Dewan Rakyat untuk menghapus pasal 153 Konstitusi Federal yang memberikan kedudukan khusus terhadap orang Melayu dan pribumi Sabah dan Sarawak. Pasal ini dianggap bermasalah karena menjadikan satu kelompok warga lebih unggul dibandingkan dengan masyarakat yang lain. Semua warga negara seharusnya setara. Meskipun, kontrak sosial ini dulu disepakati oleh semua kaum yagn dominan, tetapi kini sudah tidak lagi relevan. Lebih jauh, pembangunan negara bangsa mesti didasarkan pada kepercayaan bahwa semua warga setara.

Sejatinya, apa yang digagas dalam buku ini berkait dengan banyak isu yang juga masih kontroversial di Indonesia. Selain itu, isu-isu yang sering mendera di antara kedua negara tidak sedikitpun disentuh, karena memang tidak mendesak untuk dibahas. Justeru, masalah di atas membuka warga di sini untuk melihat gambar besar dari ide dalam sekujur tubuh, yaitu kesejahteraan untuk semua. Namun, dengan pilihan ideologi yang berbeda, tentu kehendak baik ini tak serta merta diterima oleh khalayak. Setidaknya, kehadiran buku ini menjadi bukti bahwa keterbukaan adalah jalan menuju pengetahuan dan perubahan. 

 

Ahmad Sahidah Dosen Program Pascasarjana Universitas Nurul Jadid