• +6281216049842

URGENSI BELAJAR DI RUMAH

WIB. Diakses: 445x.

urgensi-belajar-di-rumah

Kebijakan pemerintah untuk lockdown dan social distanting sebagai upaya preventif penyebaran Virus Corona (Covid-19) berimbas pada dunia pendidikan, khususnya kegiatan belajar mengajar. Mendikbud “Mas Menteri” Nadiem Makarim telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tentang Pembelajaran secara Daring dan Bekerja dari Rumah dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Covid-19 pada Selasa (17/3/2020). Dengan demikian, pembelajaran yang biasanya dilaksanakan di kelas dan lingkungan sekolah itu ‘terpaksa’ dilakukan di rumah.

Jika ditelaah lebih lanjut, maka mestinya belajar di rumah tidak hanya dilakukan secara insidental dalam situasi dan kondisi tertentu seperti yang kita alami akhir-akhir ini, tetapi menjadi habit yang harus terus digelorakan setiap hari. Mengapa belajar di rumah itu penting? Berikut beberapa alasannya:

Ibu sebagai Guru Utama

Al-umm madrasatul ula, ibu adalah sekolah yang pertama dan utama (bagi anak-anaknya)” adalah ungkapan yang sangat tepat karena ibu adalah orang yang pertama bersentuhan langsung dengan anak secara fisik dan psikis. Ibu merupakan guru pertama bagi seorang anak sebelum guru-guru selanjutnya.

Ibu atau umm dalam bahasa al-Qur’an, satu akar kata dengan imam (pemimpin) dan ummat. Berkat perhatian dan keteladanan seorang umm, akan lahir imam yang dapat membina ummat. Peranan inilah yang menjadikannya sebagai umm atau ibu. Tuhan menganugerahkan kaum ibu struktur biologis dan ciri psikologis yang berbeda dengan kaum bapak demi suksesnya peran tesebut. Peran ibu sebagai pendidik bukanlah sesuatu yang mudah dan tidak dapat dianggap remeh. (M. Quraish Shihab: 2008)  

Keluarga sebagai Lingkungan Belajar Pertama

Keluarga dan lingkungan sekitar merupakan “sekolah” pertama bagi anak. Di rumah, ada interaksi anak dengan orang tua dan orang-orang sekitarnya. Ini  menjadi proses sosialisasi anak yang juga menentukan karakter dan kepribadiannya di kemudian hari. Pola asuhan, tutur kata, dan perilaku anggota keluarga sehari-hari secara otomatis akan “direkam” oleh si anak.  “Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia akan belajar memaki, Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, maka ia belajar menaruh kepercayaan. Jika anak dibesarkan dengan olok-olok, maka ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, maka ia belajar percaya diri. Jika anak dibesarkan dengan pujian, maka ia belajar menghargai”. (Dikutip dari syair oleh Dorothy Law Nolte).

Berkaitan dengan perlakuan kepada anak, Rasulullah Muhammad pernah menegur keras seseorang yang mengambil dengan kasar seorang bayi dari pangkuan Rasul hanya gara-gara si anak kecil itu—maaf—pipis hingga membasahi pakaiannya. “Pakaian yang basah ini dapat dibersihkan oleh air, tetapi  apa yang dapat menghilangkan kekeruhan dalam jiwa anak akibat rengkuhanmu yang kasar itu?”, demikian sabdanya.  

Rumah sebagai Tempat Belajar Anak

Lalu, bagaimana upaya menjadikan rumah sebagai tempat belajar anak? Pertama, lakukan pendampingan belajar anak di rumah pada jam-jam tertentu, semisal dari pukul 18.00 sampai pukul 21.00. Hanya 3 jam dalam sehari semalam ayah bunda memanfaatkan waktu berkumpul bersama anak. Dengan kegiatan apa? Dengan 3B (Bermain, Bicara dan Belajar). Kita tahu bahwa dunia anak-anak adalah dunia bermain. Dengan bermain, anak-anak menemukan dan mempelajari hal-hal atau keahlian baru. Lewat bermain, fisik anak akan terlatih, kemampuan kognitif dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain (utamanya ayah-bunda) akan berkembang. (Sujiono: 2009).

Ajaklah anak ngobrol yang ringan-ringan. Tanyakan kegiatan apa saja di sekolah. Bermain apa dan dengan siapa hari itu. Dengarkan cerita, curhat dan celoteh polosnya. Dampingi anak mengerjakan PR-nya di rumah. Kurangi kelelahan fisik-mentalnya yang masih harus mengerjakan setumpuk pekerjaan setelah hampir seharian juga mengerjakan tugas di sekolahnya. Periksalah buku dan bacaannya sambil lalu menyeleksinya dari yang tidak layak dibacanya. Menciptakan keakraban dengan anak semacam ini menjadi pola komunikasi efektif di keluarga.

Kedua, membudayakan Mother School (Sekolah Ibu), seperti yang digagas oleh Komunitas Tanoker Ledokombo Jember. Tema pembahasan di Mother School yang menggandeng Women Without Borders, salah satu lembaga Austria yang concern terhadap perempuan ini, adalah seputar mencari solusi terbaik dalam mendidik anak demi masa depan mereka. Kita tidak menyangkal bahwa peranan seorang ibu dalam keluarga sangat menentukan tumbuh-kembangnya anak sebagai generasi bangsa. Maka, program apapun yang menyangkut pemberdayaan perempuan (kaum ibu) patut diacungi jempol.

Sebenarnya, ada perkumpulan kaum ibu yang boleh dikata mirip dengan program Mother School tersebut, yakni arisan. Arisan sudah jamak dilakukan oleh masyarakat kita dengan beragam ‘label’nya: Arisan kifayah, diba’an, sholawatan dan sebagainya. Alangkah baiknya jika saat arisan mendatangkan narasumber untuk berbagi ilmu dan pengalaman. Mendatangkan bidan pada suatu saat, dan perawat di waktu yang lain. Demikian seterusnya. Anggaplah arisan itu sebagai training singkat atau kursus singkat (short course) bagi para ibu.

Dan terakhir, parenting, yaitu ilmu tentang mengasuh, mendidik, dan membimbing anak dengan benar dan tepat. Kegiatan yang menyangkut parenting bisa dilakukan bagi para ibu yang menunggui putra-putrinya di PAUD/TK dan kelas-kelas awal SD/MI dengan format diskusi yang ‘sersan’ (serius tapi santai). Berilah pemahaman bahwa tidak menyalahkan kodok—apalagi batu—penyebab jatuhnya anak kecil kita yang belajar berjalan, merupakan langkah nyata penanaman bertanggungjawab dan keberanian mengambil resiko pada diri anak sejak dini. Menghargai kreativitas anak walau ia harus belepotan lumpur dan terpampang “lukisan abstrak” di tembok rumah kita.

Beberapa sekolah—Sekolah Insan Teladan Bogor, misalnya—melibatkan para ibu wali murid dalam kegiatan di sekolah, seperti memasak di sekolah untuk suguhan murid-murid itu juga merupakan salah satu upaya parenting yang dimaksud. Pelibatan para ibu itu karena kehidupan anak-anak banyak dihabiskan di rumah. Karena itulah para ibu harus dibekali pengetahuan yang baik agar pendidikan anak-anak di rumah tidak terputus.

Hanya orang-orang dewasa yang mengerti pada dunia anak yang dapat mendidik anak dengan baik, sehingga mereka dapat berkembang menjadi generasi yang berkualitas. Orang tua anak/wali dituntut untuk mengamalkan “Ajarilah anak-anakmu dengan ilmu pengetahuan terbaikmu, karena mereka diciptakan untuk zaman (yang akan datang), bukan zamanmu (sekarang)”. Semoga berkah!

 

Moh. Mahrus Hasan*

*Alumni PP. Nurul Jadid Tahun 1996; Pengurus PP. Nurul Ma’rifah Curahdami Bondowoso dan Guru MAN Bondowoso.