• +6281216049842

MEMORI DALAM INDUSTRI MEDIA: Antara Analog dan Digital

WIB. Diakses: 1.848x.

memori-dalam-industri-media-antara-analog-dan-digital

Kehidupan mengajarkan kepada kita bahwa memori manusia tidak begitu dapat diandalkan. Bila kita menengok sejarah, kita melihat berbagai bentuk rekaman yang membantu kita mengatasi hambatan ini. Peradaban manusia telah terekam dengan sendirinya oleh berkas-berkas (records). Sebagai memori obyektif, berkas-berkas (records) itu kemudian menjadi subyek kajian ditinjau dari aspek ilmu perpustakaan yang melestarikan dan menyampaikan bahan-bahan tersebut kepada pengguna.

Semua bentuk rekaman konvensional, yaitu rekaman yang tidak dihubungkan dengan teknologi komputer, memiliki ciri umum, yakni kesamaan antara berkas/rekaman (records) dengan apa yang dituliskan. Oleh karena itu, suatu lukisan merupakan wakil realitas fisik atau realitas dengan unsur spasial. Realitas yang  didapat (data rekam) dan gambar (berkas) yang didokumentasikan secara spasial memiliki kesamaan. Kesamaan antara berkas/rekaman dan yang direkam itu sangat serupa sebagaimana lukisan. Bila kita berargumentasi lebih lanjut, kita dapat mengatakan bahwa analogi menunjukkan ke bidang persepsi visual (arti yang disampaikan dan emosi yang ditimbulkan oleh lukisan merupakan titik perhatian yang bersifat sekunder).

Transkripsi musikal menggambarkan alur melodi. Perasaan yang ditimbulkan  oleh musik tidak penting bagi berkas. Tugas berkas semata-mata hanya merekam suara. Struktur transkripsi notasi sama dengan struktur nada-nada melodi.

Sistem penulisan telah berkembang secara luas dalam berbagai bentuk rekaman, kita dapat mengatakan bahwa pohon tulisan telah menyalin  ucapan (atau tepatnya: phonetic  dan struktur phonemic dari suatu bahasa) ke dalam bentuk grafis. Kita tidak lagi bertanya bagaimana arti dapat diekspresikan oleh struktur phonetic  dan bagaimana arti dari ide/gagasan yang ada pada kita “hanyalah perbedaan bahasa”. Kita cukup melihat analogi antara struktur dan berkas (tulisan) dan struktur phonemic  sebagaimana yang telah dituliskan.

Ringkasnya, pada dasarnya ciri sebuah berkas/rekaman yang tidak berhubungan  dengan teknologi komputer berasal dari analogi antara bentuk berkas/rekaman dengan bahan yang direkam. Berkas konvensional adalah berkas analog. Sejauh ini, perpustakaan terutama berurusan dengan buku. Namun dengan hadirnya komputer membawa perubahan yang drastis. Hadirnya komputer memberikan kemudahan dalam mengatasi bahan pustaka analog yang heterogen.

Ketika  awal perkembangan  penerapan komputer, mula-mula dilakukan percobaan  membuat rekaman analog ke dalam komputer. Sejalan dengan perkembangan teknologi, terjadi perubahan pola penyimpanan  rekaman analog ke digital. Perubahan dari media penyimpanan analog menjadi digital yang hanya menggunakan prinsip bilangan biner 1 – 0 , ternyata memiliki kemampuan yang luar biasa. Adanya proses konvergensi di dalam proses digitalisasi, yakni penggabungan-penggabungan antara satu media dengan media lain, menyebabkan semakin mudah, ringkas, dan efektifnya orang dalam penggunaan media tersebut. Misalnya saja penggabungan antara teks, gambar, suara, film, dan lain-lain menyebabkan semakin dimungkinkannya penyajian media dalam satu sarana saja, yakni internet. Munculnya era digital yang akan menciptakan ruang maya (virtual) ini memungkinkan berubahnya wajah semua industri media massa, mulai dari electronic book  (buku elektronik), electronic journal (jurnal elektronik), electronic news paper (surat kabar elektronik), electronic radio (radio elektronik), dan electronic television (televisi elektronik).

Berubahnya industri media massa tersebut memaksa semua produknya yang semula berbentuk analog menjadi digital, seperti buku, film, kaset, VCD, DVD, foto, kertas koran, dan lain-lain. Perubahan wajah industri media massa yang menjadi virtual ini mau tidak mau menyeret dunia perpustakaan  untuk mengikuti derap kemajuan  teknologi informasi yang ada. Transformasi ini juga mengubah semua koleksi perpustakaan yang jelas-jelas adalah produk media massa itu sendiri. Natinya semua koleksi perpustakaan dapat terbaca oleh mesin dan dapat tampil dalam bentuk file-file komputer yang telah diatur sedemikian rupa sehingga mudah di-temu-kembali-kan oleh siapa pun dan di mana pun.

Perubahan wajah industri media massa menjadi virtual dikondisikan oleh adanya kemungkinan perubahan tatanan masyarakat dari masyarakat industri (industrial society) menuju masyarakat informasi (information society); suatu kondisi di mana masyarakat menganggap bahwa modal utama sektor ekonomi adalah informasi yang mampu menciptakan lahan kerja baru. Tatanan masyarakat informasi (information society) ini ditandai dengan tidak adanya industri media yang sifatnya massif dan bentuk fisik analog. Tidak akan ada surat kabar beroplah sangat besar dengan menyeragamkan agenda setting isi berita dengan menganggap bahwa kebutuhan informasi publik semua adalah sama. Demikian juga dengan stasiun televisi dan radio yang sudah benar-benar berpihak ke publik, tidak lagi berpatokan pada frame time dan iklan. Dengan adanya era digital,  publik sebagai audiensnya   berkuasa penuh, dan pola penyeragaman kebutuhan masyarakat yang merupakan model masyarakat industri (industrial society) mulai ditinggalkan.

Masyarakat akan dianggap sebagai molekuler antar pribadi secara individualistik, bukan kolektivistik lagi. Maksudnya di sini manusia harus diakui sebagai individu-individu yang memiliki kebutuhan unik orang perorang. Sedemikian hebatnya perubahan teknologi informasi yang mampu mengubah tatanan hidup dan pola tingkah laku publik. Perubahan pengakuan kebutuhan orang perorang akan informasi inilah yang memaksa pelaku industri media menciptakan suatu media yang khusus dan unik bagi kebutuhan informasi orang perorang. Kehadiran  teknologi internet yang pesat saat ini yang disinyalir dapat mengakomodir apa keinginan informasi yang diinginkan oleh publik. Bayangkan di era maya (virtual), di mana kepercayaan publik terhadap informasi lewat internet sudah sangat tingi dan semua kegiatan sepenunya terjadi lewat internet.

Situasi positif yang mungkin timbul adalah perubahan dari stasiun penyiaran televisi konvensional menjadi stasiun TV elektronik (e-television). Lewat stasiun televisi elektronik tersebutlah diyakini banyak pihak bahwa akan muncul portal-portal informasi akibat adanya proses konvergensi atau penggabungan media-media penyimpanan, seperti teks, suara, gambar, gambar bergerak, dan lain-lain yang serba digital. Kemungkinan yang terjadi dengan adanya portal informasi ini adalah hilang dan bangkrutnya media-media massa dan penyiaran selain televisi. Oleh karena itu tidaklah heran bila banyak pemain industri media menanggapi kemungkinan tersebut dengan berpaling ke industri media penyiaran televisi dengan pola kepemilikan silang. Bukti yang nyata saat ini adalah sudah banyak pemilik penerbitan surat kabar membuat stasiun televisi dan radio sendiri dengan maksud mengantisipasi meledaknya era virtual dan penciptaan portal informasi. Dengan munculnya stasiun televisi elektronik, yang terjadi adalah perubahan kinerja mereka yang menjadi lebih berfungsi sebagai  pusat rujukan(focal point) utama bagi masyarakat.

Sistem kerjanya hampir sama seperti bentuk perpustakaan konvensional saat ini dengan kehandalan pada penelusuran dan jasa referensi yang ada, namun semuanya dalam bentuk online(data terbacakan oleh komputer). Audiens tidak perlu lagi menunggu waktu tertentu untuk melihat suatu tayangan televisi. Mereka tinggal memilih keinginannya dengan kemampuan browsing(menelusur) lewat sarana internet tentang apa yang mereka mau lihat dan tayangkan. Demikian juga dengan keinginan membaca literatur dan mendengar musik atau talk show lewat radio, mereka cukup mengakses portal informasi stasiun televisi saja. Semua portal  informasi menyajikan semua kebutuhan informasi yang sesuai dengan keinginan publik orang perorang , bukan massif seperti saat ini. Singkatnya semua media massa pada akhirnya berlaku seperti perpustakaan bebentuk digital, yang berpatokan pada apa yang diinginkan audiens orang perorang, dan kehadiran portal informasi itu akan dikelola oleh para pelaku media yang lebih berorientasi pada industri bisnis.

*) Achmad Fawaid

Bukan Pembaca Buku Serius, Mahasiswa Doktoral FIB UGM  Yogyakarta