Tentang Buku Ini
Pelbagai keindahan akan kalian temukan dalam catatan ini. Namun keindahan yang tersaji bukan sekadar tampak oleh mata. Banyak keindahan-keindahan lain yang hanya bisa terasa dengan hati. Keramahan warga Pulau Tomia, adalah salah satunya. Catatan ini semacam mengajak kita melongok bukan sekadar untuk swafoto, tapi untuk mendengar, membangun empati, dan sudah tentu belajar. Persis seperti yang diutarakan Moslih Eddin Saadi, โA traveler without observation is a bird without wingsโ. Di catatan ini kita akan disuguhkan momen-momen yang reflektif.
Observasi yang dilakukan penulis tampaknya hendak mengingatkan kita semua, bahwa Indonesia adalah negara yang kaya. Pernyataan ini klise belaka. Memang. Namun, penulis tak bisa menghindarinya. Kenyataan-kenyataan itu ditemukan di pusparagam kejadian. Penulis dengan sengaja terus mengungkapkan fakta bahwa Indonesia memang kaya. Tentu itu akan membangkitkan semangat kita untuk menengok kembali Indonesia.
Kekayaan yang disodorkan penulis beraneka ragam. Dari catatan ini kita melihat bahwa tradisi Rabu Wekasan di Pulau Tomia berbeda. Penulis menyuguhkan tradisi Mandi Safar. Tradisi itu diikuti hampir seluruh warga desa. Sebelum, setiap warga diminta menggenggam daun sirih di tangan. Kemudian tetua desa mulai merapal doa. Seusai itu mereka bersama menceburkan badan di pantai. Tradisi tolak-balak itu dicatat dengan ciamik oleh penulis.
Informasi Detail
| Judul Buku |
TABUHAN REBANA DI PULAU TOMIA |
| Penulis |
|
| Kategori |
Pendidikan |
| Tahun Terbit |
2023 |
| ISBN |
978-623-6757-48-2 |
| Jumlah Halaman |
441 halaman |
| Media Terbitan |
Digital |
| Tahun Terbit |
2023 |
| Dimensi |
- |
| Jenis Cover |
Physical |
| Stok |
Habis
|